

Kualitas udara di Kota Palembang, Sumatera Selatan, menjadi perhatian akibat meningkatnya polusi udara dan kabut asap yang berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat. Berdasarkan informasi dari situs IQAir pada 15 Oktober 2026, indeks kualitas udara (AQI) Palembang tercatat mencapai 473 dengan kategori berbahaya, sedangkan konsentrasi PM2.5 mencapai 312 ยตg/mยณ. Kondisi ini menunjukkan bahwa pencemaran udara perlu mendapat perhatian serius karena dapat berdampak pada kesehatan masyarakat, terutama anak-anak, lansia, dan individu yang memiliki gangguan pernapasan.
Kabut asap yang menyelimuti wilayah Palembang dapat disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan, khususnya pada musim kemarau. Paparan polutan udara, terutama partikel halus PM2.5, berisiko menyebabkan gangguan pernapasan, batuk, iritasi, dan sesak napas, serta memperburuk kondisi kesehatan tertentu. Dampak tersebut dapat dirasakan oleh masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan maupun kelompok rentan. Oleh karena itu, kondisi kualitas udara di Palembang memerlukan perhatian bersama melalui peningkatan kewaspadaan dan pemantauan informasi kualitas udara secara berkala.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan masyarakat, Universitas Sjakhyakirti turut berpartisipasi dalam upaya penanggulangan dampak kabut asap melalui kegiatan pembagian masker kepada masyarakat pada 8 Oktober 2026. Kegiatan ini merupakan wujud nyata kepedulian universitas dalam membantu melindungi masyarakat dari paparan polusi udara sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan di tengah kondisi udara yang tidak sehat. Melalui aksi sosial ini, Universitas Sjakhyakirti berharap masyarakat semakin memahami pentingnya menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan dan menerapkan langkah-langkah pencegahan untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan.
Selain menggunakan masker, masyarakat dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, menutup pintu dan jendela untuk membatasi masuknya asap ke dalam ruangan, serta menjaga pola hidup sehat dan memenuhi kebutuhan cairan tubuh. Masyarakat juga diimbau untuk tidak melakukan pembakaran sampah maupun lahan karena dapat memperburuk pencemaran udara. Pemantauan informasi kualitas udara dari sumber tepercaya menjadi langkah penting agar masyarakat dapat menyesuaikan aktivitas sehari-hari dengan kondisi lingkungan.
Melalui kegiatan pembagian masker dan edukasi kesehatan, Universitas Sjakhyakirti berkomitmen untuk terus menumbuhkan kepedulian sosial serta mendorong partisipasi masyarakat dalam menghadapi permasalahan kabut asap di Kota Palembang. Diharapkan, kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dapat membantu meminimalkan dampak pencemaran udara sekaligus mendukung terciptanya lingkungan yang lebih sehat, aman, dan nyaman bagi seluruh warga.
